Skip to main content

Tim PKM UNSOED Teliti Perilaku Orang Tua Dalam Mencegah Diabetes Melitus Anak

[unsoed.ac.id, Sen, 06/11/23] Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Jenderal Soedirman meneliti tentang pengaruh perilaku orang tua dalam mencegah diabetes melitus pada anak-anak di Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.

Penelitian ini dilakukan oleh tim yang terdiri atas Ketua Dani Amelia dari Jurusan Kesehatan Masyarakat 2021, Zahra Aminy Tanjung dari Jurusan Kesehatan Masyarakat 2021, Safitri dari Jurusan Kesehatan Masyarakat 2021, dan Naila Rukhil Azizah dari Jurusan Keperawatan 2020. Pelaksanaan kegiatan ini dibimbing oleh dosen dari Jurusan Kesehatan Masyarakat, Ibu Lu'lu Nafisah S.K.M., M.K.M.

Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit kronis yang menjadi permasalah besar di Indonesia. Menurut National Diabetes Statistic Report pada tahun 2017 penyebaran DM pada anak-anak dan remaja tahun 2015 di Amerika dinilai 7,2% dari populasi usia anak dan remaja dengan jumlah 132.000 anak usia <18 tahun dan 193.000 anak usia <20 tahun. Akan tetapi, data diabetes pada anak sendiri di Indonesia masih belum lengkap. Kemenkes mengungkap terjadi kenaikan kasus diabetes pada anak sebanyak 70% pada tahun 2023. Naiknya angka kasus diabetes pada anak di Indonesia perlu dilakukan upaya pencegahan dari berbagai faktor, salah satunya upaya pencegahan yang dilakukan oleh orang tua sebagai kontrol perilaku anak.

Dani Amelia mengatakan, penelitian ini dilakukan dengan teknik pengambilan sampel Stratified Random Sampling dan dilaksanakan di 11 Desa Kecamatan Jatilawang yang direpresentatifkan oleh 9 responden per Desa nya. Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dan perilaku pencegahan. Sikap yang baik akan berpengaruh pula pada perilaku pencegahan yang baik. “Sikap baik ini meliputi orang tua menyediakan makanan sehat untuk anaknya, membatasi konsumsi penyedap rasa dan bahan pemanis, rutin untuk mengajak anak refreshing, serta mengajak anak melakukan aktivitas fisik,” jelasnya.

Hasil lain penelitian ini juga menunjukkan perilaku pencegahan tidak berhubungan dengan pengetahuan orang tua dan tingkat perekonomiannya. Akan tetapi, di dalam masyarakat masih terdapat beberapa pemahaman yang kurang tepat mengenai diabetes melitus. Salah satu contohnya yaitu mengonsumsi nasi kemarin untuk penderita diabetes karena kadar gula dalam nasi sudah menurun yang mana hal tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dijalankan Dewi dan Isnawati pada tahun 2013 dimana penderita yang mengonsumsi nasi kemarin justru kadar gula darahnya lebih tinggi.

Selain itu, penelitian ini juga melakukan pemeriksaan kadar gula darah pada anak menggunakan informed consent dan ditemukan 2 anak masuk kategori diabetes dari 28 anak-anak. Adanya penelitian ini diharapkan masyarakat khususnya orang tua menyadari pentingnya menerapkan pencegahan dan dapat melakukan perilaku pencegahan diabetes pada anak, serta pelayanan kesehatan dapat mempertimbangkan hasil ini untuk melakukan evaluasi program maupun pengadaan program sebagai screening awal diabetes pada anak.

#unsoedmajuterus

#merdekamajumendunia